Selasa, 30 November 2010

Membaranya Jalan Hidup Sang Pembicara

Sahabat Semesta yang Tulus, Jika Anda sebagai seorang Pembicara, maka perhatikanlah untaian kalimat berikut : Banyak Yang Mampu menjadi Pembicara, tapi sedikit yang Berbicara dengan sepenuh Kemampuan. Banyak Yang Mau Menjadi Pembicara, tapi sedikit yang Berbicara dengan sepenuh Kemauan. Banyak yang Berbicara tentang Kebenaran, tapi sedikit yang Berbicara dengan Benar. Banyak yang mampu membicarakan Orang banyak, tapi sedikit yang mampu berbicara di hadapan Orang banyak. Banyak yang Berhati-hati ketika Berbicara, tapi sedikit yang berbicara dengan sepenuh Hati. Banyak yang membicarakan tentang Cinta, tapi sedikit yang menyimak tatkala cinta sedang Berbicara. Banyak yang berbicara tentang TUHAN, tapi sedikit yang melibatkan TUHAN sejati ketika ia sedang berbicara.
Sedangkan jika Anda sebagai seorang Pendengar, maka perhatikanlah untaian kalimat berikut : Banyak yang Melihat, tapi sedikit yang Mendengar. Banyak yang Mendengar, tapi sedikit yang MendengarKAN. Banyak yang Mendengarkan, tapi sedikit yang MemperHATIkan. Banyak yang Memperhatikan, tapi sedikit yang MengERTI. Banyak yang Mengerti, tapi sedikit yang MengAMALkan. Banyak yang Mengamalkan, tapi sedikit yang IKHLAS. Banyak yang IKHLAS, tapi sedikit yang tetap mampu istiqomah menjaga keikhlasannya dalam setiap amal perbuatan yang telah dimengertinya.
Satu sisi Sang Pembicara belum siap total menjadi seorang Pembicara yang pribadinya positif dan memiliki skill berbicara yang positif, dan di sisi lain karakter para Pendengar umumnya adalah lebih suka sesuatu yang sifatnya hiburan dan terlihat (Visible). Jika Sang Pembicara berorientasi Menghibur, maka tak kan mudah terjadinya perubahan karakter pada para pendengar, dan jika Sang Pembicara berorientasi mendidik, maka Skill (Teknik) dan Soft Skill (Hati-Daleman) Sang Pembicara banyak yang belum mumpuni sehingga para pendengar tidak nyaman dan bosan mendengar dan menyimak materi yang diberikan.
Padahal, Pembicara dan juga Pendengar, keduanya ingin berubah dan menjadi lebih baik, tetapi ternyata BERUBAH menuju kebaikan itu sangatlah tidak mudah kecuali bagi hamba-hamba Allah yang telah mendapatkan HIDAYAH dariNya.
Sebetulnya, beban sebagai seorang Pembicara itu sangatlah banyak, sehingga jika Sang Pembicara masih “gagal” melepaskan dan menyerahkan beban yang ada pada dirinya kepada Allah maka yang terjadi adalah ketidakbaikan, dimana energi suara yang timbul tidak akan penuh dengan kepositifan. Sehingga dampak perubahan itu masih jauh dari harapan, karena Sang Pembicara sendiri pun pada sejatinya belum berubah, atau setidaknya belum mau berubah dengan sungguh-sungguh sebagaimana yang sering disarankannya kepada para audiennya.
Ya, walaupaun para pendengar banyak yang tidak kenal hidup keseharian Sang Pembicara, tapi energi suara dari Sang Pembicara tersebut akan menjadi salah satu washilah yang utama akan datang atau tidaknya hidayah dan rahmat dari ALLAH SWT. Walaupun karakter suara itu bisa di make-up (manipulasi), tapi “daleman” dari karakter suara Sang Pembicara itu tetaplah JUJUR mensilaturahimi para hati audien yang mengikuti seminarnya.
Sahabat Semesta yang bijak, sesungguhnya dalam hidup ini ada dua unsur, pertama unsur yang TERLIHAT (Visible) dan kedua unsur yang TIDAK TERLIHAT (Invisible). Secara Visible mungkin saja para pendengar bisa terpengaruh oleh Sang Pembicara, misal tampilan Sang Pembicara yang oke, menawan, rapi, berjas, berdasi, bening, jam tangan mahal, dan datang dengan mobil yang keren, tapi secara Invisible Sang Pembicara tidak bisa menutupi apa pun di hadapan hati terdalam audiennya.
Itu sebabnya jika Sang Pembicara mengatakan bahwa kita harus sering sedekah, berani dan pantang menyerah, sedangkan ia sendiri adalah seorang yang kikir, penakut dan mudah menyerah, maka yang terjadi adalah bentrokan bawah sadar antara yang diucapkan Sang Pembicara dengan apa yang dirasakan di dalam hati terdalam Sang Pembicara, sehingga yang tertransfer ke dalam hati Sang Pendengar seringkali adalah apa yang ada di hati Sang Pembicara bukan apa yang diucapkan oleh Sang Pembicara.
Dan, walaupun Sang Pembicara itu secara Visible ia baik, dan secara Invisible juga ia bertaqwa, tapi jika setelah ia merasa sukses memberikan sebuah sesi training, lalu secara bawah sadar ia merasa bangga dengan kehebatannya, maka yang tadinya seharusnya materi yang telah disampaikannya itu memberikan efek yang dahsyat kepada para pendengar, tapi karena ia berbangga diri, maka efek itu menjadi jauh berkurang atau malah bisa saja hilang. Hal ini terjadi tentunya dikarenakan tidak adanya Ridho dari Allah dan secara washilah hal ini terjadi karena Energi yang seharusnya dibagikan ke para peserta itu telah terserap ke dalam rasa bangga Sang Pembicara itu. Itu sebabnya dalam sebuah hadist disebutkan bahwa salah satu hal yang menghancurkan adalah hadirnya rasa bangga terhadap diri sendiri.
Maka, jika Anda seorang Pembicara tetaplah tawadhu (rendah hati) setelah Anda sukses menyampaikan materi dalam sesi training yang Anda lakukan, sehingga tidak perlu langsung sibuk mencari testimoni yang membuat Anda merasa bangga dengan testimoni itu. Tapi biarkanlah, jika ada testimoni secara alami hadir kepada Anda, dan bersyukurlah atas karuniaNya.
Dan jika Anda seorang Pendengar, maka belajarlah mendengar dengan hati (memperHATIkan), bukan sekedar Mendengarkan (Listen), apalagi jika sekedar Mendengar saja (Hear). Tapi dengarkanlah dengan sepenuh hati, sehingga terjadi perubahan yang dahsyat dalam hidup Anda atas izinNya, dan niatkanlah ke dalam diri Anda bahwa Anda akan menyampaikan sebagian atau seluruh dari materi yang Anda dapatkan dari Sang Pembicara. Karena sejatinya semua Motivasi sejati itu Islami, dan semua yang Islami itu Qurani, dan Nabi saw. pernah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang belajar Al-Quran (Sebagai Audien/Sang Pendengar) dan yang Mengajarkan Al-Quran (Sebagai Pembicara/Sang Pembicara).
Wallahu alam bish-showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar